MALAIKAT CILIK
Yohana Tiovella
“Hai, sivia
!“ panggil Zahra ketika aku memasuki kelas.
“Ya, ada
apa?“ tanyaku sambil meletakkan tas ke bangkuku.
“ Ini,
undangan untukmu datang ya ke ultahku di hotel Sinar Jaya,” jawab Zahra sambil
memberikanku kartu undangan ulang tahun berwarna pink.
“Tapi,”
kataku ragu.
“Tapi apa ?
tempatnya jauh ya, nanti aku jemput deh,” kata Zahra mengerutkan kening
“ Bukan itu
maksudku tapi, bolehkah aku membawa adikku ?” tanyaku ragu karena ibuku pasti
sibuk mengurus mini market dan tidak ada yang menjaga adikku.
“Wah, tentu
saja boleh. Bawa saja Acha , aku kangen nih sama dia,” jawab Zahra, yang
membuatku lega.
Zahra,
adalah sahabatku walaupun kami tidak sekelas. Ia selalu main kerumahku, jika
ada waktu. Zahra juga anak orang kaya. Inilah yang membuatku bingung, hadiah
apa yang harusku berikan padanya.
Pulang
sekolah, aku pun ingin memberitahu Acha tentang undangan ini.
“Acha, sini
dulu,“ panggilku pada Acha adik perempuanku yang masih berumur 3 tahun.
“Bentar,kak,” kata Acha yang sedang menyusun boneka – bonekanya. Aku pun
menghampiri Acha yang sedang bermain.
“Acha, mau
tidak ikut kakak ke acara ulang tahun kak Zahra.,” kataku merayu Acha berharap
ia mau ikut.
“Ada,
badutnya tidak kak ? terus disana ada es cream gak ?” tanya acha.
“ Tentu.
Ada, sayang. Kamu ikut ya ? kasihan kak
Zahra dia kangen sama kamu tuh,“ kataku.
“Oke, kak.
Tapi nanti disana harus ada es cream ya,” kata acha dengan suatu syarat.
“Sip, oke
deh “ kataku meningalkan acha dan pergi membuat gelang sebagai hadiah untuk
Zahra.
Semua sudah
beres, acha mau ikut ke ultha Zahra dan aku sudah membuat hadiah. Untuk tidak
menyusahkan ibu, aku pun menggunakan uang tabunganku untuk pergi ke hotel Sinar
Jaya. Hotel itu cukup jauh dari rumahku. Sehingga , membutuhkan uang lebih
untuk kesana.
“ Acha, kamu
sudah siap,” kataku memanggil acha yang dari tadi sibuk berpose didepan kaca.
“Udah, kak.
Acha cantikkan seperti tuan putri,” kata acha memamerkan gaunnya.
“ Iya, tuan
putri,“ kataku menggodanya dan menggandengnya untuk bergegas berangkat ke
hotel.
Sesampai di
hotel, aku sungguh takjub. Walaupun, acara belum dimulai. Tamu undangan sudah
memenuhi seluruh ruangan hotel. Aku pun sedikit minder karena semua orang
berpakain rapi dan anggun. Maklum, mungkin semua undangan kalangan orang kaya.
“Hai sivia,
hai Acha kamu cantik sekali,” kata Zahra memanggilku dan memuji acha.
“Waw, kamu
juga cantik sekali,” kataku terpesona melihat gaun yang dipakai Zahra.
` “Iya, kak Zahra cantik deh, tapi
cantikkan aku,” kata acha bangga.
“Wah, iya
deh makasih. Kamu memang cantik Acha” kata Zahra mengedipkan mata pada Acha.
“Ini, Zahra
, hadiah untukmu, maaf kalau kurang suka dan kurang berharga “ kataku
memberikan Zahra kado berwarna biru.
“Wah, tidak
perlu repot – repot. Terimakasih ya. Kalian tunggu disini, acara mau mulai. Aku
mau keatas panggung dulu ya,” kata Zahra meninggalkan kami.
Aku pun
melihat – lihat seisi ruangan pesta yang cukup luas ini. Aku sungguh kagum dengan
acara ulang tahun meriah ini. Kapan , aku bisa seperti ini. Sungguh mimpi yang
tidak akan pernah terjadi. Ulang tahun makan – makan dirumah saja aku sudah
bersyukur.
Kami pun
segera mencari bangku tamu yang kosong untuk kami berdua. Acha pun terlihat
bosan dan mulai bertingkah aneh.
“Kak, beliin
es cream,“ rengek Acha.
“ Kitakan,
baru datang, nanti dulu ya,“ kataku.
“Acha mau
sekarang,” katanya dengan nada marah. Semua undangan pun melihatku.
“Iya, deh
sekarang kita beli,” kataku menahan malu sambil menuju penjual es cream.
Ketika,
hendak menyiapkan uang untuk membeli es cream , aku tidak menemukan uangku di
tas. Aku pun panik , ku obrak – abrik isi tasku. Benar – benar tidak ada. Mungkin
terjatuh ketika aku membayar angkot ketika menuju kesini. Wajahku pun pucat
pasi. Aku bingung, bagaimana caranya aku pulang. Hotel ini cukup jauh dari
rumahku. Dan tidak mungkin aku merepotkan Zahra.
“ Acha,
nanti saja ya, es creamnya. Acaranya sudah mulai tuh,” kataku gugup mencari
asalan.
“ Itu, ada
badut kak. Ayo, kesana,“ ajak acha yang lupa dengan es creamnya.
Aku tidak
menikmati acara ini. Karena yang ada dipikiranku hanyalah saat pulang, rasanya
aku ingin menangis karena kecerobohanku. Dan acha pasti merengek minta es cream
setelah acaranya selesai. Aku pun bingung dan tidak menikmati tiap - tiap acara.
“Kak Sivia
lihat orang itu, dia lagi ngapain kak,” tanya Acha padaku
“Kakak itu
lagi bernyanyi sambil joget seperti inul” kataku menjawab pertanyaan acha
dengan nada yang tidak semangat sama sekali.
“Aku juga
bisa joget seperti itu, lihat nih” kata acha sambil mempraktekkannya di
depanku. Hatiku yang tadinya bingung kini ingin tertawa sekeras mungkin karena
tingkah acha yang lucu sedang bergoyang ala inul.
Pembawa
acara memberi kuis adakah yang bisa meniru gaya penyanyi itu dengan goyang
ngebor ala inul dan akan di beri hadiah. Aku pun celingak-celinguk melihat kiri
dan kanan tidak ada yang berani maju karena itu hal yang konyol dan membuat
malu. Ketika mataku, kembali tertuju keatas panggung, tampak acha telah berdiri
diatas sana. Aku benar – benar terkejut dan tidak dapat membayangkan apa yang
terjadi nanti.
Ketika lagu
dibunyikan , tawa keras terdengar dimana – mana melihat goyangnya acha yang
tidak tahu malu itu. Sesekali, orang - orang melihat kearahku. Aku pun harus
menahan malu dan merinding melihat acha bergoyang diatas panggung.
Sungguh
tidak ada rasa malu pada acha. Ia bergoyang mengikuti irama dan berjoget ala
inul. Tawa disana – sini tiada henti. Ingin rasanya aku mematikan lagu itu dan
mengajak acha turun. Sungguh sangat memalukan.
Ketika, lagu selesai , tepuk tangan riuh seperti hendak
meruntuhkan seisi ruangan.
“Acha lebih baguskan jogetnya dari pada kakak yang
berjoget dan bernyanyi tadi. Dan ini hadiah untuk kak Zahra dari Acha” kata
Acha mengunakan microphone dengan bangga. Tiba – tiba tawa kembali meledak
mendengar perkataan acha itu.
Pembawa
acara pun, memuji Acha. Ia, memberikan hadiah es cream dan bingkisan makanan
ringan pada Acha . Dan sebelum Acha turun dari panggung, orang tua Zahra memberikan sejumlah uang pada acha. Awalnya,
acha menolak. Padahal uang itu sangat kubutuhkan untuk pulang. Ketika
melihatku, iya menerima uangnya dan berlari kearahku.
“Ini, kak
uangnya untuk kakak aja. Acha sudah ada es cream dan makanan ini,” kata acha
sambil memamerkan es cream dan bingkisannya. Aku pun menangis dan ku peluk acha
dengan erat. Acha sudah melakukan jalan keluar masalah kami. Aku sangat bahagia
dan senang.
“ Kakak,
kenapa nangis ? jangan nangis nanti acha jadi ikutan nangis,” kata acha
mengeluarkan air matanya karena anak kecil mudah tersentuh hatinya.
“Tidak , kok
sayang. Ayo kita pulang,” kataku mengusap air mataku dan berpamitan pada Zahra.
Acha telah
menjadi malaikat cilik penolong bagiku. Tanpa dia, ntah apa jadinya nanti.
“Biarpun malu yang penting untung” kataku
dalah hati sambil tertawa. I love acha batinku dalam hati.